Menyibak Rahasia di Balik TPA Al Amin: Ketika Berau Belajar tentang Sebuah Rumah Qur’ani yang Tumbuh dengan Profesionalisme
BANTUL — Rabu sore, 9 September 2026, matahari perlahan menurunkan cahaya ke ufuk Bantul. Di Kertopaten, Wirokerten, Banguntapan, sebuah rumah pendidikan Al-Qur’an menerima tamu dari jauh.
Bukan sekadar kunjungan biasa. Ada niat untuk belajar, ada tekad untuk membawa pulang pengalaman, dan ada harapan agar sebuah model pengelolaan Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPA) yang telah berjalan secara profesional dapat menjadi inspirasi bagi pengembangan TPA di Kabupaten Berau.
TPA Al Amin Kertopaten menjadi tujuan rombongan DPD Badan Komunikasi Pemuda Remaja Masjid Indonesia (BKPRMI) Kabupaten Berau dalam kegiatan study banding tersebut.
Kunjungan yang direncanakan pukul 15.00 WIB hingga selesai itu memang sejak awal dimaksudkan sebagai ruang untuk bertukar pengalaman. Dalam surat permohonan resmi DPD BKPRMI Kabupaten Berau, disebutkan bahwa kunjungan ini bertujuan meningkatkan wawasan, pengetahuan, dan kualitas pengelolaan TPA sekaligus menggali inspirasi mengenai sistem pengelolaan, metode pembelajaran Al-Qur’an, pembinaan santri, pengembangan kompetensi ustaz/ustazah, administrasi kelembagaan, serta program-program unggulan.
Dan sore itu, tujuan tersebut menemukan tempatnya.
Dari Berau untuk Belajar, dari Al Amin untuk Menginspirasi
Hadir dari Kabupaten Berau, Kabag Kesra Kabupaten Berau, Bapak Toto Marjito beserta staf, serta Sekjen BKPRMI Kabupaten Berau, Bapak Eko.
Mereka datang dengan satu tujuan sederhana namun bermakna: mencari model TPA yang dianggap terbaik dan telah dikelola secara profesional untuk kemudian dipelajari dan, bila memungkinkan, diterapkan di Kabupaten Berau.
Di sisi lain, TPA Al Amin menyambut dengan tangan terbuka.
Hadir dalam penyambutan tersebut Ketua TPA Al Amin, Muchlis Umaidi, Sekretaris Devi Istriyani dan Anisa, Bendahara Diantar K, Seksi Kurikulum Iwan Rustiawan, Seksi Sarana dan Prasarana Zainal Arifin, serta para ustaz dan ustazah.
Tidak ada sekat antara tamu dan tuan rumah. Yang hadir bukan sekadar pejabat, pengurus, dan pendidik, tetapi orang-orang yang dipertemukan oleh kecintaan yang sama: bagaimana pendidikan Al-Qur’an dapat dikelola dengan sebaik-baiknya demi tumbuhnya generasi Islam yang berkualitas.
Suasana pun berlangsung hangat, kekeluargaan, komunikatif, dan menyenangkan.
Percakapan mengalir. Pertanyaan demi pertanyaan bermunculan. Pengalaman dibagikan. Hal-hal kecil yang selama ini mungkin dianggap biasa di TPA Al Amin justru menjadi sesuatu yang menarik perhatian tamu dari Berau.
“Luar Biasa…” — Ketakjuban yang Tumbuh dari Sebuah Sistem
Salah satu hal yang membuat rombongan Kabupaten Berau kagum adalah kurikulum yang diterapkan di TPA Al Amin.
Bagi mereka, kurikulum bukan sekadar susunan materi pembelajaran. Ia menjadi napas yang menghidupkan seluruh proses pendidikan—menentukan arah, membangun kebiasaan, dan memastikan setiap santri mendapatkan proses pembinaan yang terarah.
Namun, kekaguman tidak berhenti di sana.
Sistem pembagian tugas di TPA Al Amin menjadi salah satu bagian yang paling mencuri perhatian.
Di tengah dunia pendidikan yang sering kali membuat seorang pengelola harus mengenakan banyak “topi” sekaligus, Al Amin justru membangun pembagian kerja yang lebih terstruktur.
Ada dua orang yang khusus menangani administrasi, dua orang bagian kebersihan, satu orang menangani urusan rumah tangga, satu orang bagian sarana dan prasarana, serta 38 ustaz/ustazah yang menjadi garda terdepan dalam mendampingi santri.
Mendengar dan melihat sistem tersebut, kekaguman pun menyeruak.
“Luar biasa.”
Dua kata sederhana, tetapi rasanya cukup untuk menggambarkan betapa besarnya kesan yang dibawa pulang dari Kertopaten.
Sebab di balik banyaknya nama dan pembagian tugas itu, ada sebuah filosofi penting: bahwa pendidikan yang baik tidak hanya membutuhkan orang-orang yang baik, tetapi juga membutuhkan sistem yang baik.
Ketika Insentif Menjadi Bentuk Penghargaan
Perbincangan juga menyentuh tentang kesejahteraan para ustaz dan ustazah.
Di Kabupaten Berau, para ustaz/ustazah mendapatkan insentif sebesar Rp1.250.000 setiap bulan.
Sementara dalam pengelolaan di Berau, terdapat pula ketentuan melalui Peraturan Bupati (Perbup) yang mengaitkan jumlah santri dengan besaran anggaran atau gaji. Sebagai gambaran, 40 santri mendapatkan alokasi Rp6 juta.
Pembahasan semacam ini menjadi penting, sebab keberlangsungan pendidikan Al-Qur’an tidak hanya berbicara tentang gedung, kurikulum, dan jumlah santri.
Di balik setiap huruf hijaiyah yang diajarkan, ada seorang ustaz atau ustazah yang meluangkan waktu, tenaga, pikiran, dan hati.
Maka ketika kesejahteraan mereka mulai mendapatkan perhatian, sesungguhnya yang sedang dirawat bukan hanya seorang pendidik.
Yang sedang dirawat adalah masa depan generasi.
Al Amin, Sebuah Nama yang Menjadi Cerita
Ada tempat-tempat yang besar karena bangunannya.
Ada tempat-tempat yang dikenang karena kemegahannya.
Namun ada pula tempat yang menjadi besar karena nilai yang hidup di dalamnya.
TPA Al Amin Kertopaten adalah salah satu ruang yang perlahan menulis ceritanya sendiri.
Di tempat ini, pendidikan Al-Qur’an tidak sekadar berlangsung dari satu halaman ke halaman berikutnya. Ia tumbuh bersama sistem, kebersamaan, kedisiplinan, pembagian tugas, dan ketulusan orang-orang yang berada di dalamnya.
Kertopaten mungkin hanya sebuah titik kecil di peta Bantul.
Tetapi sore itu, dari titik kecil tersebut, sebuah inspirasi sedang berjalan jauh—menyeberangi jarak hingga Kabupaten Berau.
Al Amin seperti sebuah lentera yang tidak bertanya sejauh apa gelap berada. Ia hanya memilih untuk menyala.
Dan ketika cahaya itu dilihat oleh mereka yang datang dari jauh, cahaya tersebut tidak menjadi berkurang.
Justru semakin banyak yang ingin menyalakannya.
Dari Kertopaten Menuju Berau
Kunjungan ini pada akhirnya bukan hanya tentang apa yang dimiliki TPA Al Amin dan apa yang belum dimiliki TPA di Kabupaten Berau.
Lebih dari itu, pertemuan ini adalah tentang saling belajar.
Berau datang membawa pengalaman dan semangatnya sendiri. Al Amin menerima dengan pengalaman yang telah dibangun bertahun-tahun.
Dari perjumpaan itu lahir sebuah harapan: semoga praktik-praktik baik yang ditemukan di TPA Al Amin dapat menjadi inspirasi bagi pengembangan sistem TPA di Kabupaten Berau.
Semoga perjalanan rombongan dari Berau tidak berhenti ketika mereka meninggalkan Kertopaten.
Semoga apa yang dilihat, didengar, dan dirasakan sore itu berubah menjadi gagasan.
Gagasan berubah menjadi program.
Program berubah menjadi sistem.
Dan sistem itu kelak tumbuh menjadi manfaat bagi ribuan santri di Kabupaten Berau.
Menanam Hari Ini, Memanen Generasi Esok Hari
Untuk TPA Al Amin Kertopaten, semoga perjalanan panjang yang telah dibangun tidak berhenti pada pencapaian hari ini.
Semoga Al Amin terus menjadi rumah yang nyaman bagi anak-anak untuk mengenal Al-Qur’an, tempat para ustaz dan ustazah bertumbuh, serta ruang yang terus melahirkan inovasi dalam pendidikan Islam.
Semoga profesionalisme yang telah dibangun tetap berjalan seiring dengan kehangatan dan kekeluargaan.
Sebab pendidikan Al-Qur’an membutuhkan keduanya: sistem yang kuat dan hati yang hangat.
Dan untuk Kabupaten Berau, semoga kunjungan ini menjadi awal dari perjalanan yang lebih panjang.
Semoga model-model baik yang ditemukan dapat disesuaikan dengan karakter, kebutuhan, dan potensi masyarakat Berau. Semoga semakin banyak TPA yang mampu tumbuh secara profesional, semakin baik kesejahteraan para ustaz dan ustazah, serta semakin kuat pembinaan generasi muda Islam.
Karena pada akhirnya, setiap TPA bukan hanya sedang mengajarkan anak membaca Al-Qur’an.
Mereka sedang menanam sesuatu yang mungkin baru terlihat bertahun-tahun kemudian.
Menanam ayat hari ini, untuk memanen akhlak di masa depan.
Dan sore di Kertopaten itu menjadi saksi bahwa sebuah TPA kecil dapat memiliki cerita yang jauh lebih besar daripada batas-batas wilayahnya.
Dari Al Amin Kertopaten, Wirokerten, Banguntapan, Bantul, sebuah inspirasi berangkat.
Menuju Berau.
Membawa satu pesan sederhana:
Bahwa ketika pendidikan Al-Qur’an dikelola dengan ilmu, profesionalisme, kebersamaan, dan keikhlasan, sebuah TPA tidak lagi sekadar menjadi tempat belajar. Ia dapat menjelma menjadi rumah yang menyalakan masa depan.
Komentar Santri & Pembaca (4)
H. Zaed Junaidi SE. MM.
11 Sep 2026, 17:36
TPA Al Amin Kertopaten luar biasa, telah melahirkan ribuan generasi Qurani dan telah berhasil membangun supertim dalam pembelajaran yg bisa di andalkan secara sistem.
Hal ini tentu bukan pekerjaan sehari, bukan juga sebulan, tapi butuh waktu bertahan tahun dalam pembuktian.
Komitmen yg kuat, kompetensi yg dimiliki, proses berulang yg dilewati serta terus berkinerja tinggi seluruh tim sehingga menghasilkan output santri santri yang andal adalah rangkaian proses yg tidak mudah, apalagi di kehidupan modern seperti saat ini, Saya salut dan apresiasi Bravo TPA Al Amin, teruslah menjadi kebanggaan.
Teruslah menjadi penerang, teruslah berkontribusi utk generasi bangsa yang islam.
Semoga Allah terus menguatkan dalam kompak dan kebersamaan. Aamiin aamiin ya mujibassailin..
Ilnuma
10 Sep 2026, 12:54
Ma syaa Allah..
Semangat selalu para para pejuang Al Qur'an. Mencetak generasi Rabbani pemimpin peradaban Islam..
yuni.hastari@gmail.com
10 Sep 2026, 09:23Masyaallah. Semoga menginspirasi betapa pentingnya TPA. Menanam hari ini insyaallah kelak memanen pahala jariyah siapun yg berkontribusi. Aamiin
Mcy
10 Sep 2026, 07:30Sebuah catatan yg luar biasa 2 jempol utk admin . Sangat menginspirasi